Rabu, 07 Oktober 2009
Alena-Buffon TungguAnak Kedua
lama Gianluigi Buffon akan
berstatus "bapak dua
anak". Sang istri, Alena
Seredova, sudah
berencana melakukan
sesuatu yang telah
dilakukan sang suami
pada anak pertama
mereka. Apa? Read More......
Jumat, 04 September 2009
JUVENTUS Menang Atas Roma
Juventus Menang Atas Roma
Resmi Penantang Inter
Juventus membuktikan diri sebagai penantang terkuat Inter dalam perebutan Scudetto. Ini terlihat saat Juve menang 3-1 atas Roma di Olimpico, Minggu (30/8).
Sehari sebelum laga, pelatih Ciro Ferara dengan tegas menyebut timnya bakal berpeluang besar menjuarai Serie A jika mampu menang head to head dengan sesama pengincar gelar juara. Ferrara menganggap Roma merupakan salah satunya.
Demi mewujudkan ambisi tersebut, Juve langsung tampil menekan sejak peluit babak pertama dibunyikan. Lihat saja dua peluang Vicenzo Iaquinta dan sundulan Tiago Mendes dimenit-menit awal yang masih bisa ditahan Julio Sergio.
Kebuntuan baru pecah pada menit ke-24 setelah Diego Ribas mencetak Gol perdananya di Serie A melalui solo run dari tengah lapangan. Diego lantas mencungkil bola melewati Sergio dengan kaki kanannya setelah mencuri bola yang gagal dikuasai dengan sempurna oleh Marco Casseti.
Juve tetap mendominasi laga. Kendati demikian, tuan rumah berhasil mengejutkan setelah tendangan jarak jauh Danielle de Rossi dari jarak 32 meter tak mampu dihalau Gianluigi Buffon.
Di babak kedua, laga berjalan imbang karena kedua tim sama-sama punya peluang bagus. Namun, Si Putih-Hitam lebih cermat memanfaatkan peluang. Menerima umpan terobosan dari belakang, Diego mampu mengelabui Philipe Mexes sebelum menyelesaikan peluang itu dengan tembakan keras kaki kanan.
Menjelang akhir laga, Felipe Melo mengakhiri laga debut Serie A-nya dengan sempurna setelah mencetak gol penutup melalui tendangan keras kaki kiri. “Sejak awal kami sudah memperkirakan laga ini akan sangat sulit dan memang itulah kenyataannya. Tapi, saya yakin dengan kualitas tim ini, kami pasti membawa pulang tiga poin,” ujar Diego, yang menjadi bintang pertandingan, seperti dikutip Tuttosport.
Pelatih Roma, Luciano Spaletti, mengeluhkan kondisi fisik anak asuhnya yang tidak sempurna sebagai biang kegagalan. Maklum, tiga hari sebelumnya, I Lupi baru saja menang 7-1 atas Kosice dalam pertandingan 2nd leg babak play-off Europe League. Praktis hanya kiper Sergio, Rodrigo Taddei dan Simone Perotta yang memiliki kondisi sempurna karena tidak bermain dalam pertandingan tersebut.
“Kami harus membangun konsistensi dalam permainan kami. Tapi, itu akan sulit terwujud jika kondisi fisik tidak mendukung. Kami bermain bagus tapi tidak secara fisik terutama dimenit-menit akhir,” keluh Spaletti. Bagi Juventus, kemengan ini jelas berpengaruh positif terhadap tim. Wajar, target trus menang masih terjaga. Kendati demikian, Ferrara tidak mau hanyut dengan start bagus ini.
“Kemenangan ini meningkatkan moral pemain dan membuat kami semakin yakin dengan peluang menjuarai Serie A. Tapi, kompetisi masih panjang dan bahaya akan selalu mengintai di setiap tikungan,” ujar allenatore berusia 42 tahun ini.
Credits: BOLA newspaper
Tuesday, August 25th 2009
DIEGO: “Kami Tak Khawatirkan Inter”
Awal menjanjikan yang ditampilkan Juventus membuat bintang baru Juventus Diego siap menyaingi Inter Milan dalam perburuan Scudetto.
Pembelian pemain di bursa musim panas sukses dilakukan Juventus. Salah satu bintang barunya Diego dalam dua laga terakhir sudah tampil melebihi harapan. Di laga kedua Serie A Italia menghadapi Roma, pemain asal Brasil ini mencetak dua gol hingga Juventus unggul 3-1. dengan torehan ini, Diego juga memiliki ambisi untuk dapat membawa Juventus sukses pada musim ini.
“Meski saya membayangkan bersatunya Diego dan Juventus akan sukses, tapi awal musim lebih baik dari yang dibayangkan. Saya senang dan siap memberikan apapun untuk para penggemarku, pelatih dan supporter Juventus,” kata Diego di SkySport24.
“Sejak saya datang mereka mendukungku dan memastikan aku dapat bekerja sama dikondisi terbaik. Sekarang saya ingin memberikan segalanya di lapangan.” Tak heran dengan hasil memuaskan di awal musim ini, Diego berambisi memberikan gelar untuk Juventus. Ia juga tak terlalu khawatir bersaing dengan Inter Milan.
“Tujuan kami menang dan meraih gelar. Kami sedang membidik ke arah itu dan berharap mendapatkannya.” “Apakah kami sama dengan Inter? Tentu. Juve memiliki pemain terbaik di dunia, grup luar biasa dan pelatih hebat. Saya pikir kami sudah mempersiapkan diri dengan matang sebagai tim. Jadi kami tak perlu khawatir dengan Inter. Meski kami harus menghargai usaha mereka sebagai tim besar.”
Credits: GOAL.com
Sabtu, 29 Agustus 2009
BUFFON: “Tak Ada yang Bisa Kalahkan Kami”
GIANLUIGI BUFFON: “Tak Ada yang Bisa Kalahkan Kami”
Lahir dari keluarga atlet, tak sulit bagi Gianluigi Buffon menebak garis hidupnya. Saat remaja lain berpesta merayakan sweet seventeen, Gigi sibuk berlatih dibawah mistar gawang. Ia menggores debut Serie A bersama Parma. Di musim keempatnya, Parma keluar sebagai jawara UEFA Cup. Puas dengan 168 laga di Parma, Gigi cabut ke Juventus 2001. Harganya menembus rekor transfer kiper dunia, €52 juta.
Pria asli Italia ini termasuk pemain yang setia. Ketika Juve terlempar ke Serie B akibat skandal calciopoli, Gigi tidak beranjak dari Olimpico. Padahal, kala itu sederet klub-klub besar antri ingin merasakan servis Gigi. Dengan tegas pria bertinggi 191 cm ini menolak dan stay bersama Bianconeri. Kesetiaannya terbayar dengan meraih gelar cadetti (Serie B) pada 2007.
Ia merasakan cap pertamanya dengan timnas Italia di usia 19, menggantikan Gianluca Pagliuca pada kualifikasi Piala Dunia 1998. total, 96 kali sudah ia membela Azzurri sejak 1997.
Diusianya yang ke-32, ayah dua anak ini masih menjadi andalan Juventus dan Italia. Gigi tak sungkan berbagi kisah mengenai hidupnya. Mulai dari keluarga, masa kecil hingga pencapainnya. Seperti apakah personality kiper terbaik dunia ini? Berikut kutipan wawancaranya.
Waktu Juve turun kasta ke Serie B, kenapa Anda bertahan?
Kalau Juve tetap di Serie A, besar kemungkinan saya pindah ke Milan untuk mencari tantangan baru. Tapi, turun ke Serie B sudah cukup menantang dan rasanya saya membuat langkah yang tepat. Mungkin itu terdengar tak normal, tapi yang pasti itu pilihan yang amat simpel. Kalau Juve jatuh, saya harus ikut bersamanya. Juve yang membesarkan saya. Saya utang budi karena itu.
Bagaimana rasanya menjadi kiper terbaik dunia tapi main di Serie B?
Dalam hidup, saya diajarkan untuk menjadi orang yang bisa d eal dengan keadaan. Kalau Anda ingin maju dan berkembang, Anda harus bisa melewati berbagai kesalahan, halangan dan rintangan. Dalam 10-20 tahun ke depan, baru terasa manfaatnya. Begitu pula dalam sepakbola.
Anda berasal dari keluarga olahragawan. Ibu pelempar cakram, Ayah angkat besi, Adik voli dan basket. Anda pernah tergoda melakukan olahraga lain waktu kecil?
Well, sepakbola adalah olahraga kesukaan saya. Saya pernah ikut Atletik, bola voli dan juga basket. Tapi tetap sepakbola nomor satu.
Siapa pemain favorit Anda?
Saya suka Lothar Mattheaus, Tomas Skuhravy dan Thomas Nkono sebagai kipernya. Saya terkesan begitu melihat Nkono main di Piala Dunia 90, Ia jadi pahlawan saya. Saya selalu suka yang underdog. Di Italia, saya mendukung Genoa dan Pescara ketika sebagian besar orang mengikuti Marradona dan Napoli.
Kok bisa suka sama Nkono? Waktu itu Anda belum jadi kiper kan?
Betul, sampai usia 13, saya adalah striker. Suatu hari saya diminta jaga gawang, ternyata berjalan lancar. Seolah-olah semuanya sudah digariskan. Empat tahun selanjutnya saya main di Serie A. Ketika semua anak muda ingin ke klub besar, saya malah ke Parma. Pengalaman saya memang tak ‘normal’, tapi itu justru membantu saya kedepannya.
Membantu bagaimana?
Hal itu membentuk gaya bermain saya. Saya dipaksa bergerak sesuai insting. Apa yang paling tepat dilakukan saat itu. Saya bisa bereaksi secara refleks, seperti tak berproses.
Bagaimana rasanya saat mengangkat trofi Piala Dunia 2006?
Bagai mimpi menjadi kenyataan. Pasti itu yang dirasakan semua pemain. Saya merasa begitu beruntung. Benar-benar senang karena bisa membuat seisi Italia senang.’
Credits: ProGOL!
